Tentang Format ITB

FORMAT (Forum Mahasiswa Garut) ITB adalah sekelompok mahasiswa S1 ITB yang berasal dari Garut, mempunyai garis keturunan orang Garut, pernah tinggal, dan mempunyai kepedulian terhadap Garut. Dulunya FORMAT ITB hanya sebuah paguyuban, kemudian resmi menjadi organisasi pada tanggal....

Pesta Pendidikan 2013

Pesta pendidikan adalah rangkaian acara pengenalan bagi siswa SMA yang rutin dilangsungkan oleh FORMAT ITB[...]

Liburan Bersama FORMAT ITB

Setelah Rangkaian acara Pesta Pendidikan 2013, Format ITB mengadakan Tour bersama FORMAT, berlokasi di Batu Karas Pangandaran, para peserta yang merupakan panitia Pesta Pendidikan 2013 mengikuti[...]

If you are going [...]

BIUS ITB, Jaminan Akses Mahasiswa Kurang Mampu terhadap Pendidikan

Dilatarbelakangi oleh keprihatinan akan akses pendidikan di Perguruan Tinggi yang terbatas untuk mahasiswa kurang mampu, pada tahun 2009 BIUS (Beasiswa ITB untuk Semua) didirikan. BIUS mengajak semua mahasiswa berprestrasi yang kurang mampu untuk dapat kuliah di ITB secara gratis. Pada awal dibentuk, yaitu tahun 2009, kampanye secara besar-besaran disebarkan lewat internet dan media sosial. Kampanye ini bertujuan agar siswa SMA di seluruh wilayah di Indonesia menget[.....]

Mahasiswa Harus Menjadi penemu Hebat

"Banyak contoh di dunia bahwa penemu-penemu itu berasal dari kalangan mahasiswa. Contohnya Microsoft,” kata JK dalam ceramah dengan tema ‘Ramadhan’s Great Metting‘ di Aula Timur kampus ITB, Ahad (14/7). Menurut JK yang kini menjabat Ketua Umum Palang Merah Indonesia ( PMI), penemuan tersebut tentunya harus memiliki manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.[...]

Showing posts with label Umum. Show all posts
Showing posts with label Umum. Show all posts

Thursday, October 10, 2013

Mahasiswa Harus Menjadi penemu Hebat

Bandung (FORMATNews) - Mantan wapres RI, Jusuf Kala (JK) mendorong kalangan mahasiswa agar menjadi penemu-penemu hebat yang bisa bermanfaat bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Penemuan tersebut bisa di bidang teknologi, ekonomi, maupun bidang lainnya.
“Banyak contoh di dunia bahwa penemu-penemu itu berasal dari kalangan mahasiswa. Contohnya Microsoft,” kata JK dalam ceramah dengan tema ‘Ramadhan’s Great Metting‘ di Aula Timur kampus ITB, Ahad (14/7).
Menurut JK yang kini menjabat Ketua Umum Palang Merah Indonesia ( PMI), penemuan tersebut tentunya harus memiliki manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.
Ia mencontohkan, mahasiswa ITB memiliki kemampuan di bidang teknologi. Kemampuan tersebut tentunya harus diwujudkan melalui berbagai lenelitian dan menjadi sebuah penemuan yang hebat.
“Saya yakin dari mahasiswa ITB ini akan muncul pemikiran dan penemuan yang bisa bermanfaat bagi masyarakat banyak,” ujar dia.
Potensi mahasiswa dengan penemuannya itu, kata JK, harus didukung kalangan perusahaan. Sebab, kata dia, jika kemampuan menemukan sebuah teknologi tak dibarengi dengan kemampuan memasarkan jelas akan sangat rugi. Oleh sebab itu, kalangan kampus harus bekerja sama dengan dunia usaha.
“Universitas melahirkan penemuan, sedangkan kalangan usaha memiliki kemampuan dalam memasarkan. kita ingat dulu harga telepon genggam mencapai Rp 15 juta. Sekarang harganya ada yang Rp 500 ribu. Ini berkas perpaduan antara penemuan dan pemasaran,” tutur dia.
JK mengungkapkan, kemampuan yang dimliki dunia kampus dan usaha harus disinerikan. Jika kedua kekuatan ini bisa dipadukan, ia yakin penemuan- penemuan mahsiswa tersebut akan bermanfaat bagi masyarakat dengan harga yang terjangkau.
“Peran pemerintah adalah memfasilitasi kedua pihak ini sehingga bisa menghasilkan sebuah penemuan yang diwujudkan dalam produk untuk kesejahteran masyarakat,” tutur dia.
Persaingan, JK melanjutkan, akan semakin berat pada 2014 mendatang. Bea masuk barang impor akan semakin kecil sehingga akan terjadi persaingan yang ketat antara produk luar dan dalam negeri.
Kompetisi ini harus dihadapi masyarakat Indonesia. Untuk itu, imbuh dia, masyarakat Indonesia harus melakukan persiapan yang maksimal menghadapi era tersebut.
“Tak hanya produk barang, jasa pun akan mudah masuk dengan ke negeri ini. Saingan kita dalam jasa adalah Singapura, Malaysia, dan Filiphina. Karena tiga negera tersebutSDM-nya menguasai bahasa Inggris,” kata dia.
Menurut JK, saat ini Korsel dan Cina menjadi kekuatan baru negara dengan kemampuan teknologi. Mereka, kata dia, berhasil karena keberaniannya menitu hasil katya negara lain.
Korea bisa seperti sekarang karena menitu produk-produk Jepang. Sedangkan Cina berani meniru produk- produk sejumlah negara. ” Korsel dan China kini menjadi rujukan sebagai negara dengan basis teknologi. Kita pun bisa melakukan itu,” ujar dia.(republika.co.id)

Wednesday, July 17, 2013

Makanan Khas Garut

Garut, (FORMATNews) -Jika anda bepergian ke Sebuah kota, tidak lengkap rasanya kalau tidak mencicipi kuliner khas kota tersebut, Garut selain terkenal dengan Dombanya , juga terkenal dengan dengan kota Dodol, namun, apakah hanya Dodol saja makanan khas Garut,? Tentu tidak, Garut memiliki beberapa Makanan Khas yang hanya akan anda temui di garut saja. apa saja itu? mari kita absen satu persatu.
 Seperti dilansir web resmi kabupaten Garut, garutkab.go.id berikut makanan khas Kabupaten Garut.
Dodol Garut
Lihat menu Khas Daerah - Produk Khas - klik: Dodol Garut
Jeruk Garut Lihat menu Khas Daerah - Produk Khas - klik : Jeruk Garut
Burayot Burayot terbuat dari Gula merah dan tepung beras pilihan, bahan dan rasa sama dengan makanan khas daerah lainnya yaitu "Ali Agrem", tapi karena dibuat bundar keriput atau "ngaburayot" (kata orang Sunda) maka dinamakanlah burayot. Makanan ini banyak diproduksi oleh masyarakat Garut terutama Leles, karena bahannya mudah didapat dan rasanya yang legit.
Ladu Ladu dibuat dari beras ketan dan diolah sedemikian rupa sehingga menjadi hidangan yang khas serta rasanya yang berbeda dengan makanan lainnya. Pertama kali diperkanalkan oleh masyarakat Malangbong Garut.
Angleng dan Aneka Wajit Angleng dan wajit, sebenarnya sama dengan dodol Garut yang diproduksi dari beras Ketan dan Gula merah. Bedanya adalah Dodol diolah menjadi semacam karamel, sedangkan wajit tidak. Makanan ini diproduksi oleh masyarakat di kabupaten Garut khususnya di Kecamatan Cihurip.
Kurupuk Kulit Khas Garut Makanan ini berkembang seiring dengan banyaknya penyamakan kulit di kabupaten Garut, karena pada proses penyamakan ada bagian dari bahan baku kulit yang dibuang tidak diolah, maka dapat diproses menjadi kerupuk kulit. Kerupuk kulit dan dorokdok Garut mempunyai citarasa yang sangat khas. Produksi kerupuk kulit tersebar di Garut Kota, Tarogong dan daerah lainnya.
Pindang Ikan Penampilan ikan pindang Garut sama dengan ikan pindang di dearah lainnya, hanya yang menjadikan berbeda adalah cara pengolahan yang berbeda membuat ikan pindang Garut juga memiliki citarasa tersendiri yang khas, dan itu membuat orang yang pernah merasakannya ketagihan. Dapat diperoleh di berbagai tempat khususnya daerah Cikajang, Cisurupan, dan Cihideung.
Sambel Cibiuk Menurut sumber yang tersebar di masyarakat Kecamatan Cibiuk, bahwa resep sambel Cibiuk dibawa dari Arab. Terlepas benar atau tidaknya, sambel yang dibuat di kecamatan cibiuk ini mempunyai perbedaan dengan sambal-sambal lainnya karena dibuat dari bahan: tomat hijau, serawung, cabe rawit dan bumbu lainnya. Walaupun pedas tetapi tidak akan menimbulkan panas pada perut yang menkonsumsinya. Karena terkenalnya, maka sekarang restoran dengan menu sambel Cibiuk sudah ada di berbagai kota besar khususnya Bandung dan Jakarta. Sambal Cibiuk mulanya hanya disajikan bila ada tamu Istimewa atau Agung. Jaman dahulu sambal ini hanya dapat dinikmati oleh masyarakat Cibiuk dan para pejabat saja, tetapi seiring perkembangan peradaban maka sekarang dapat dinikmati oleh seluruh kalangan. Rumah makan sambal Cibiuk yang ada saat ini di Kecamatan Cibiuk adalah keturunan-keturunan langsung dari pemegang resep Sambal Cibiuk yang khas. Akan tetapi untuk sekadar mengenal saja seperti apa sambal Cibiuk, Anda dapat memesannya di berbagai rumah makan di Garut Kota, Tarogong dan sekitarnya misalnya di Jl. OTISTA dan Jl. Veteran.
Ceprus Makanan ini bisa diperoleh di Garut bagian Selatan. Ceprus adalah singkong bakar panas dicelupkan pada gula merah yang telah dipanaskan (kinca). Makanan ini tergolong langka karena hanya tersaji bila di sentra gula merah asli dari pohon kawung (aren).
Catatan : Beberapa makanan khas Garut di atas hanya dapat diperoleh di daerah asalnya dan sebagian lainnya dapat diperoleh di banyak toko oleh-oleh yang tersebar hampir di setiap sudut kota . Sedangkan salah satu tempat jajanan masyarakat yang terbesar di kota Garut adalah Pasar Ceplak.
Pasar Ceplak adalah bagian dari denyut keramaian malam di kabupaten Garut. Pasar ini mempunyai sejarah yang sangat panjang, hingga dapat dikategorikan sebagai karakteristik kota dari kabupaten Garut. Pasar Ceplak mulai buka setelah Ashar (Sekitar jam 16-17 WIB) di ruas jalan Siliwangi yang terapit Jl. Cikuray dan Jl. Ciledug. Di tempat ini berbagai makanan khas Garut dan daerah lain merangsang selera. Makanan ringan sampai makanan berat, dijual dengan harga terjangkau serta suasana "kekeluargaan" dan "kerakyatan". Nama Ceplak sendiri diambil dari beradunya lidah dan langit-langit mulut bila seseorang sedang makan hingga menimbulkan bunyi (dalam bahasa sunda "ceplak"). Puncak dari keramaian Pasar Ceplak adalah pada saat bulan Rhamadhan, akhir pekan, dan hari libur.
Sumber: garutkab.go.id
[[ Syam ]]

Tuesday, July 16, 2013

Kemudahan Dapatkan Beasiswa di ITB

Bandung, (FORMATNews) - ITB sebagai salah satu perguruan tinggi negeri favorit di Indonesia selalu kebanjiran mahasiswa baru tiap tahunnya. Mahasiswa ini berasal dari berbagai provinsi di Indonesia dan dengan kondisi ekonomi yang berbeda-beda pula. Menyadari hal tersebut pihak ITB tentu tidak ingin membatasi kesempatan belajar anak Indonesia apalagi hanya terkendala masalah finansial. Berbagai fasilitas beasiswa pun disediakan bagi calon mahasiswa, mahasiswa baru dan juga mahasiswa lainnya yang menimba ilmu di ITB.

Mahalnya biaya pendidikan di Indonesia memang tidak bisa dipungkiri lagi. Namun bukan berarti masyarakat dengan kesulitan ekonomi tidak memiliki peluang untuk masuk ke gerbang pendidikan tinggi. Hal inilah yang disadari oleh Bidang Kesejahteraan dan Pengembangan Karakter Lembaga Kemahasiswaan (LK) ITB. Beasiswa biaya hidup, Biaya Penyelenggaraan Pendidikan yang dibayar di Muka (BPPM), dan Biaya Penyelenggaraan Pendidikan per Semester (BPPS) adalah suatu opsi yang dapat menjadi solusi bagi kendala yang kerap kali ditemui oleh mahasiswa.

Khusus untuk calon mahasiswa, pemerintah pusat melalui Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) menyediakan beasiswa Bidik Misi. Bantuan yang diberikan untuk peserta Bidik Misi adalah pembebasan BPPM 100% dan BPPS selama 8 semester (4 tahun kuliah tepat waktu). Setiap tahunnya ITB selalu mendapatkan kenaikan kuota. Dimulai dari tahun 2010 dengan kuota 450, kemudian di 2011 dengan kuota 700, dan di tahun 2012 dengan kuota 800.  "Mudah-mudahan tahun 2013 ini ada kenaikan lagi," ujar Nanan Hendayana Kepala Seksi Kesejahteraan LK ITB.

Beasiswa Bidik Misi terintegrasi dengan mekanisme ujian saringan mahasiswa baru. Di Tahun 2012 lalu, untuk peserta SNMPTN Undangan, pihak sekolahlah yang bertugas mendaftarkan siswa-siswanya yang dirasa membutuhkan bantuan bidik misi ini. Sedangkan untuk SNMPTN tulis, siswanya sendiri yang mendaftar mengajukan beasiswa Bidik Misi. Mekanisme pendaftaran ini tidak melalui ITB, melainkan langsung berhubungan dengan Dikti.
Para calon mahasiswa sepatutnya tidak merasa takut jika terkendala masalah finansial. Kuota yang dimiliki ITB sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk memfasilitasi jumlah mahasiswa yang membutuhkan bantuan. Menurut pengalaman Nanan, pada tahun 2012 jumlah pemohon yang berasal dari SNMPTN undangan dan tulis hanya berjumlah sekitar 500 orang dari kuota 800 orang yang disediakan pemerintah. "Untuk itu kami memiliki tim verifikasi untuk menyelidiki mahasiswa-mahasiswa yang sebenarnya juga membutuhkan bantuan bidik misi ini," papar Nanan. Mahasiswa yang memohon pembebasan biaya BPPM di tahun 2012 dapat diajukan untuk mendapatkan beasiswa Bidik Misi oleh ITB.



Dengan banyaknya bantuan yang ditawarkan baik oleh pemerintah dan pihak ITB, teman-teman dari seluruh penjuru Nusantara seharusnya tak lagi harus mengubur impiannya karena masalah finansial. "Jangan takut masuk ITB! Yang penting prestasi, bukan uang," tegas Budi Mulyadi selaku Kepala Subdirektorat Humas dan Alumni ITB.

Sumber :itb.ac.id

Friday, June 1, 2012

Peraih Ganesha Best Student 2012: Tekankan Community Development Bagi Sesama

BANDUNG, itb.ac.id - Tiap tahunnya, masing-masing program studi di ITB mencalonkan satu orang mahasiswa berprestasi (mapres) yang kemudian akan diseleksi untuk mewakili fakultas. Mapres tingkat fakultas tersebut kemudian diseleksi kembali hingga diperoleh sang pemenang, yang pada tahun ini disebut Ganesha Best Student. Untuk tahun ini, Hendra, mahasiswa Teknik Kimia ITB angkatan 2008, terpilih sebagai Ganesha Best Student 2012.

Pemuda kelahiran 15 September 1990 ini telah banyak menorehkan prestasi sejak masuk ITB. Hendra tercatat pernah mengikuti Model United Nation (MUN), kegiatan simulasi konferensi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Pada bulan Februari silam, Hendra berhasil memperoleh gelar Honorable Mention dalam Harvard National Model United Nation (HNMUN) yang diselenggarakan di Boston.

Selain aktif dalam berbagai kegiatan bahasa Inggris, Hendra juga memiliki minat dalam bidang wirausaha. Ia pernah berpartisipasi dalam Young Leaders for Indonesia (YLI) McKinsey Company dan memperoleh McKinsey Award, yang memacunya untuk membuat sebuah proyek social entrepreneurship.

Pada proyek social entrepreneurship tersebut, Hendra yang memiliki minat besar terhadap pangan mengusahakan limbah tahu untuk diolah kembali dan dijadikan makanan sejenis nugget dengan bekerja sama dengan masyarakat. Hendra berharap, proyek ini dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan membantu memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan.

Pemuda bersahaja asal Jambi ini juga berwirausaha makanan secara individu dengan bekerja sama dengan masyarakat sekitar. Menurut Hendra, kerja sama dengan masyarakat dalam berwirausaha merupakan salah satu bentuk community development (comdev) yang termasuk dalam salah satu visi hidupnya.

"Mahasiswa juga dapat meningkatkan perannya dalam public relation dengan mulai berani melakukan comdev berbasis individu. Tidak harus mengikuti KKN Tematik atau kegiatan-kegiatan berskala besar semacamnya untuk melakukan comdev," tutur Hendra.

Peraih beasiswa kuliah ini memiliki visi hidup ingin berkembang menjadi orang besar agar dapat membantu orang-orang di sekitarnya. Ia memiliki cita-cita mulia untuk menjadi seorang engineer yang bergerak di usaha industri makanan, lalu mempekerjakan masyarakat tidak mampu pada usahanya tersebut. "Dengan begitu, saya berharap dapat berkontribusi dan melakukan comdev sesuai dengan tridarma perguruan tinggi," kata Hendra.

Selain itu, ia juga ingin mendirikan sekolah dan memberikan beasiswa untuk orang-orang yang giat dan pekerja keras. "Saya ingin mengenal sedikitnya 1000 orang, dan memberikan pengaruh pada 1000 orang tersebut melalui cita-cita saya ini," ucapnya bersemangat.

Terpilih Mewakili ITB

Hendra mengatakan, menjadi mapres ITB 2012 tidak pernah menjadi target ataupun mimpinya. Terpilihnya Hendra sebagai mapres ITB 2012 tidak terlepas dari dukungan Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (Himatek) ITB dan teman-temannya.

Hendra juga berterima kasih pada Dr. Ir. Rachmawati Wangsaputra, dosen dari Teknik Industri Laboratorium Sistem Produksi (LSP) yang diakui Hendra sangat banyak membimbingnya dalam merevisi karya tulis berjudul "Improving Indonesian Students' Role in Poverty Allevation" yang memenangi seleksi Ganesha Best Students 2012. Menurut Hendra, Rachmawati sangat berjasa dalam memberikan masukan mengenai organizational thinking dan membuat karya tulisnya lebih sistematis.

Dengan terpilihnya Hendra sebagai mahasiswa berprestasi (mapres) ITB 2012, ia akan maju mewakili ITB pada pemilihan mapres tingkat nasional yang akan digelar September 2012 mendatang. Hendra mengatakan bahwa menjadi pemenang Ganesha Best Students 2012 merupakan suatu amanah besar baginya, dan ia berharap dapat menjaga integritasnya serta mempengaruhi mahasiswa-mahasiswa lainnya untuk melakukan sesuatu yang baik bagi masyarakat sekitar.

Sumber : http://www.itb.ac.id/news/3620.xhtml

Umum : Libur Tiba Ragam Aktivitas Warnai Mahasiswa ITB


BANDUNG, itb.ac.id - Kegiatan ujian akhir semester yang berdasarkan kalender akademik berakhir pada Selasa (22/05/12) kemarin menandakan masa liburan mahasiswa ITB dimulai. Setelah menjalani studi selama satu semester atau empat bulan masa aktif kuliah ditambah dua minggu masa ujian akhir semester akhirnya mahasiswa ITB bisa melepas kepenatan dan kesibukan seputar akademik.

Menjelang liburan ada suasana yang berbeda di ITB yaitu ketika minggu UAS. Saat UAS berlangsung jalan-jalan di dalam kampus ITB terlihat lengang dan perpustakaan terlihat lebih ramai oleh mahasiswa yang belajar bersama atau mengerjakan tugas besar mata kuliah.

Begitu juga aktivitas jasa fotokopi disekitar ITB yang kebanjiran pelanggan yang sebagian besar mahasiswa. "Mereka kebanyakan memotokopi slide ataupun materi kuliah," ujar salah seorang pegawai potokopi yang tidak mau menyebutkan identitasnya.

Namun untuk beberapa sudut kampus ITB, kegiatan UAS tidak menurunkan aktivitasnya, seperti di daerah timur laut dan selatan ITB. Kesibukan seperti berlatih tari dan alat musik tradisional selalu mewarnai daerah-daerah tersebut. Seakan tak kenal lelah, para pelatih yang juga mahasiswa dengan sabar membina anggota-anggotanya.

Selain kegiatan kesenian, saat-saat awal liburan juga dimanfaatkan oleh beberapa Himpunan Mahasiswa Jurusan di fakultas tertentu untuk menyelenggarakan kaderisasi wilayah seperti di STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika) dan FTSL (Fakultas Teknik Sipil dan Kelautan) ITB. Kaderisasi wilayah diadakan oleh gabungan himpunan mahasiswa jurusan di suatu fakultas sebagai pengenalan jurusan dan himpunan.

Kegiatan kemahasiswaan lain yang berlangsung saat masa liburan kali ini yaitu Latihan Kepemimpinan yang diselenggarakan oleh Lembaga Kemahasiswaan ITB di Lembang. Pendidikan dan Latihan Panitia OSKM (Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa) ITB dan rekrutmen anggota kabinet KM ITB 2012-2013 yang dapat diakses di km.itb.ac.id/daftar juga mewarnai awal liburan mahasiswa ITB.

"Kita berharap di masa liburan ini mahasiswa dapat melakukan berbagai latihan pengembangan diri. Bisa dengan mengikuti program pengabdian masyarakat atau KKN Tematik. Selain itu banyak hal yang bisa dilakukan seperti berwirausaha atau melakukan kerja praktek," ungkap Brian Yuliarto, Kepala Lembaga Kemahasiswaan ITB.

Liburan di Lapangan
Lain lagi dengan mahasiswa angkatan 2009 di program studi Teknik Geofisika dan Teknik Geologi yang menghabiskan sebagian masa liburannya dengan kuliah lapangan. Dua minggu untuk Teknik Geofisika dan satu bulan untuk Teknik Geologi. Mereka berangkat ke Karangsambung, Kebumen untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah didapatkan di kampus.

Di samping itu banyak mahasiswa di program studi lain yang melakukan kegiatan serupa dalam kerja praktek atau internship di berbagai perusahaan.

Libur Sebentar, Kuliah Lagi

Bagi mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM), liburan hanya berlangsung seminggu karena harus kembali berkuliah. Semester pendek wajib diikuti oleh mahasiswa SBM mengingat masa studinya yang hanya berlangsung selama tiga tahun. Hal yang sama juga berlaku untuk mahasiswa yang akan mengambil semester pendek.

Apapun bentuk kegiatannya, seharusnya waktu luang ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. "Inilah kesempatan bagi mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan ekstrakulikuler sehingga akan lebih siap dan memiliki nilai tambah saat lulus dan lebih siap terjun ke masyarakat," tambah Brian.

Sumber : http://www.itb.ac.id/news/3627.xhtml

Umum : Doktor ITB Berhasil Produksi Katalis untuk Pengolahan Minyak Bumi


BANDUNG, itb.ac.id - Pertamina kini tidak perlu mengimpor katalis untuk salah satu proses pengolahan minyak mentah yang dilakukannya. Seorang Doktor ITB mampu membuatnya di dalam negeri. Indonesia boleh berbangga kepada Maria Ulfah, mahasiswi strata 3 program studi Teknik Kimia ITB, yang telah mempertahankan disertasinya yang berjudul 'Hydrotreating Nafta dengan Katalis NiMo Berpenyangga Gama-Alumina' dalam Sidang Terbuka Sekolah Pascasarjana pada Jumat (14/10/11). Maria Ulfah berhasil membuat katalis tersebut dalam skala laboratorium, skala pilot, bahkan saat ini katalis tersebut telah digunakan oleh Pertamina RU-II Dumai selama 4 bulan dan terus berjalan.

Berangkat dari kenyataan bahwa kondisi minyak bumi dunia makin berat dan makin kotor oleh senyawa-senyawa sulfur, nitrogen, oksigen, nikel, dan vanadium sementara kebijakan lingkungan pemerintah makin ketat, muncul tuntutan bahwa bahan bakar minyak yang diproduksi harus bersih dari pengotor-pengotor tersebut.

Proses hydrotreating merupakan salah satu proses penting dalam pengolahan minyak bumi untuk menyingkirkan senyawa-senyawa tersebut. Pertamina membutuhkan sekitar 2000 ton/tahun katalis hydrotreating, yang harus diimpor dari luar negeri. Mengingat kebutuhan katalis yang besar ini, maka dijalinlah kerja sama dengan Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis Teknik Kimia ITB sejak tahun 2005. Riset dikonsentrasikan pada usaha produksi katalis nafta karena katalis ini lebih mudah dibuat.

Katalis hydrotreating nafta yang dikembangkan Ulfah, begitu Dr. Maria Ulfah biasa dipanggil, adalah jenis NiMo, yang merupakan larutan stabil dari logam molibdenum sebagai zat aktif dan nikel sebagai promotor. Larutan ini kemudian disangga oleh senyawa gama-alumina menjadi bentuk-bentuk trilog dengan luas permukaan yang optimal.

Membuat larutan NiMo yang stabil merupakan sebuah tantangan besar bagi riset-riset serupa yang dilakukan sebelumnya, namun Dr. Ulfah berhasil membuat sebuah formulasi dan prosedur pembuatan katalis untuk hydrotreating nafta ini dengan kinerja yang setara, bahkan lebih baik dalam beberapa aspek, dibandingkan dengan kinerja katalis komersial yang diimpor.

Katalis yang dinamakan TN 100-2T ini selain diuji pada reaktor berskala laboratorium (massa katalis 1 gram), juga telah diuji pada reaktor pilot (massa katalis 100 gram) selama 4 bulan. Bahkan, TN 100-2T telah digunakan dalam reaktor industri (massa katalis 3,5 ton) selama 2,5 bulan di Pertamina RU-II Dumai. Seluruh hasil pengujian tersebut membuktikan bahwa TN 100-2T memiliki aktivitas penyingkiran senyawa sulfur dan nitrogen yang setara dengan katalis komersial yang biasa digunakan di kilang Dumai tersebut

Bahkan, untuk penyingkiran senyawa nitrogen (dengan istilah hidrodenitrogenasi), TN 100-2T memiliki kinerja yang lebih baik (sebesar 97,25%) dari katalis komersial (sebesar 66,67%) pada reaktor komersial Dumai. Temperatur operasinya pun lebih rendah jika dibandingkan dengan katalis komersial, sehingga penghematan energi dapat dilakukan.

Keterulangan prosedur pembuatan katalis dan penyangganya juga sangat baik. Katalis skala laboratorium yang dibuat dengan skala 10 gram/batch maupun katalis skala komersial yang dibuat dengan skala 600 kg/batch memiliki sifat fisik dan aktivitas yang hampir sama, dan setara dengan aktivitas katalis komersial.

Katalis TN 100-2T ini memiliki umur sekitar 1 tahun, dan berpotensi untuk dipanjangkan umurnya karena sifatnya yang tidak mudah remuk. Hal ini didukung oleh bukti kinerjanya di Pertamina RU-II Dumai sejak Juli 2011 yang masih baik. Ke depannya, tidak hanya untuk hydrotreating nafta, TN 100-2T juga dapat digunakan untuk hydrotreating diesel.

Keberhasilan pembuatan katalis TN 100-2T ini, apalagi dalam skala komersial, merupakan sebuah pencapaian luar biasa yang membangun kepercayaan industri kepada perguruan tinggi, dalam hal ini untuk membuat katalis. Promotor Dr. Ulfah, Dr. Subagjo, menyatakan kebanggaannya atas keberhasilan produksi 'katalis merah putih' ini, yang diamini oleh segenap ko-promotor, tim penyanggah, dan pemimpin sidang. Dr. Melia Laniwati sebagai ko-promotor bahkan menyampaikan apresiasinya lebih lanjut, "Beginilah sebaiknya sebuah penelitian dilakukan. Tidak hanya berhenti hingga publikasi, namun terus dilanjutkan hingga menemukan bentuk aplikasinya dalam kehidupan nyata."

Setelah memperoleh gelarnya, Dr. Maria Ulfah akan kembali mengajar di Jurusan Teknik Kimia Universitas Bung Hatta dan akan terus mengembangkan keahliannya dalam bidang Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis.

Sumber : http://www.itb.ac.id/news/3369.xhtml

Umum : Mesin Pencacah Sampah, Karya Mahasiswa ITB untuk Kota Bandung


BANDUNG, itb.ac.id - Lebih dari 15 mahasiswa program studi Teknik Mesin ITB telah menciptakan sebuah mesin pencacah sampah. Mesin ini mampu mencacah sampah dengan kapasitas sekitar 1 ton sampah organik per hari.

Salah satu mahasiswa, Fanit Akmal (Teknik Mesin 2008) menuturkan bahwa pembuatan mesin ini dilatarbelakangi dengan adanya masalah persampahan di Kota Bandung yang semakin mencuat dan harus segera ditemukan solusi untuk menanggulanginya. Diharapkan, mesin ini mampu mengatasi masalah tersebut.

"Mesinnya sudah dilakukan ujicoba pada November lalu, dan rencananya akan diserahkan ke Dinas Kebersihan Kota Bandung akhir Januari mendatang. Mesin pertama akan dipergunakan di Pasar Suci Kota Bandung," kata Fanit dalam temu wartawan atau konferensi pers "Mechanical's Charity Act" (MECHA) di Gedung Rapim A ITB, Kamis (12/01/12).

Fanit juga menuturkan, alasan dipilihnya Pasar Suci sebagai lokasi pertama penggunaan mesin pencacah ini yaitu karena pasar ini menjadi lokasi yang paling banyak menghasilkan sampah. Terlebih lagi, 80% sampah yang dihasilkan adalah sampah organik dan ini sesuai dengan tipe mesin yang sudah dibuat. "Selain itu wilayah di sekitar pasar ini juga cukup luas sehingga bisa menyimpan mesin ciptaan kami," katanya.

Fanit menjelaskan, mesin ini mampu bekerja selama 24 jam dan selama itu dapat mengolah sampah hampir 1 ton. Mesin ini berukuran tinggi 1,5 meter dan lebar 1 meter dengan alat pencacah yang berada di dalam mesin. Cara kerjanya relatif mudah, hanya dengan memasukkan sampah organik ke dalam mesin, secara otomatis mesin akan memotong-motong sampah tersebut dan dalam waktu lima menit sampah akan berubah menjadi kompos. Mesin ini tidak dapat berpindah-pindah dan dijalankan secara manual oleh operator.

"Ada 15 mahasiswa yang sama-sama membuat mesin ini. Satu mesin dibuat dalam waktu 3-5 bulan dengan dana sekitar Rp 10-15 juta. Tapi ini masih prototipe, dan akan kami berikan untuk Kota Bandung dalam rangka acara MECHA yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) ITB," ucapnya.

"Teknologi semakin maju, tapi belum bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat banyak. Untuk itu, kami menciptakan alat ini," katanya. Selanjutnya, mesin tersebut akan diperbanyak 3-4 unit untuk ditempatkan di beberapa lokasi di Bandung. Selain itu, juga akan dilakukan pengembangan dengan menciptakan mesin pemilah sampah. "Rencana ke depannya, kami  juga akan membuat grand design untuk mengatasi masalah sampah non organik," tutup Fanit.
 
Sumber: Pikiran-Rakyat.com, Seputar-Indonesia.com

Umum : Minuman dari NASA Ampuh Lawan Keriput

MINUMAN hasil ciptaan NASA yang bertujuan melindungi astronaut dari radiasi ternyata juga efektif melawan keriput, noda, dan kerusakan kulit lainnya akibat paparan sinar matahari.

Menurut peneliti dari Universitas Utah, minuman yang dikenal sebagai AS10 ini telah menunjukkan hasil yang menakjubkan pada kulit yang rusak. Hal itu terlihat dalam uji coba terhadap 180 peserta uji coba. Mereka menemukan bahwa setelah hanya empat bulan meminum AS10, bintik-bintik UV pada wajah berkurang 30 persen dan kerutan berkurang hingga 17 persen, seperti dikuitp dari New York Daily News.


Minuman ini adalah campuran buah-buahan, termasuk acai, acerola, pir berduri, yumberry, anggur, teh hijau, delima dan cupuacu brasil. Bahan-bahan itu memberikan vitamin dan fitokimia dalam jumlah tinggi sehingga menghalangi efek berbahaya dari radiasi, kata para peneliti. Tidak hanya itu, AS10 juga mengandung banyak antioksidan yang menangkal stres oksidatif atau radikal bebas yang menyebabkan kerusakan kulit.


"Kulit adalah jaringan tubuh pertama yang terkena sinar UV dan kita tahu kulit juga sensitif terhadap stres oksidatif," jelas Dr Harun Barson, ilmuwan nutrisi di University of Utah. "Studi kami menunjukkan minuman ini sangat manfaat dalam mengurangi pengurangan ini. Dampak stres oksidatif pada kulit dapat dengan cepat diubah dan kulit bisa sembuh sendiri dengan minum AS10," kata Barson. Para partisipan yang kebanyakan perempuan meminum sekitar 2 ons AS10 dalam sehari. Satu botol AS10 sebanyak 25 ons dihargai US$50. (Prita Daneswari/OL-06) 


Sumber : http://www.mediaindonesia.com/mediahidupsehat/index.php/read/2012/05/31/5254/3/Minuman-dari-NASA-Ampuh-Lawan-Keriput 

Umum : Bersiap Lihat Transit Venus yang Langka

Transit Venus adalah peristiwa saat posisi planet tersebut berada di antara Matahari dan Bumi sehingga akan tampak sebagai titik hitam yang bergerak di muka Matahari. Kejadian alam yang langka ini akan terjadi 6 Juni 2012 mendatang.

Mengapa langka? Transit Venus terjadi hanya dua kali dalam satu abad. Uniknya, antara transit pertama dan kedua jaraknya 8 tahun, namun peristiwa berikutnya harus menunggu lebih dari seabad, 121 tahun atau 105,5 tahun tergantung periodenya.
 
Transit Venus terakhir kali terjadi tahun 2004 dan berikutnya akan terjadi 6 Juni 2012. Setelah itu, baru tahun 2117 transit Venus akan kembali terjadi.

Artinya transit Venus mendatang pada 6 Juni 2012 mungkin kesempatan terakhir bagi sebagian besar orang yang hidup saat ini untuk menyaksikannya kecuali berumur panjang lebih dari 100 tahun.

Muhammad Rayhan, Ketua Himpunan Astronom Amatir Jakarta (HAAJ) mengatakan, Venus yang memiliki periode revolusi mengelilingi Matahari rata-rata sekitar 200 hari sementara Bumi yang 365 hari memang akan selalu pada posisi sejajar setiap 19 bulan yang jatuh Juni atau Desember.

Namun, tidak setiap kalau terjadi transit Venus. Hal ini karena orbit Bumi dan Venus punya perbedaan sekitar 3,4 derajat. Posisi sejajar dan lurus hanya terjadi berulang dengan periode 8 tahun, 121 tahun, 8 tahun, dan 105,5 tahun.

Transit hanya terjadi untuk dua planet inferior atau planet dalam yakni Merkurius dan Venus. Hal ini karena kedua planet itulah yang mungkin melintas di antara Bumi dan Matahari. Sementara planet lainnya tidak mungkin terjadi transit dengan Matahari.

"Karena kedua planet di antara obit Bumi dan Matahari. Mars dan lainnya punya orbit di luar Bumi," jelas Rayhan.
  
 
Foto: bma2.org
 
 Beginilah transit venus akan terlihat, ada noktah hitam mengorbit pada matahari
 
Sayangnya, pada peristiwa transit Venus tanggal 6 Juni 2012, tidak seluruh daerah yang bisa mengamatinya. Beruntung, seluruh wilayah Indonesia masuk dalam wilayah pengamatan.

Wilayah Indonesia Timur dapat mengamati peristiwa tersebut dari awal hingga akhir yang berlangsung sekitar 6 jam. Sementara wilayah Indonesia barat dapat mengamati lebih dari 5 jam.

"Sejak pertama kontak sampai selesai dari Jakarta bisa diamati mulai pukul 05.10 pagi," kata Rayhan.

Namun, karena pada saat transit dimulai Matahari belum terbit, pengamatan baru bisa dilakukan beberapa menit kemudian hingga berakhir pukul 11.00.

Sumber : http://www.apakabardunia.com/2012/05/bersiap-lihat-transit-venus-yang-langka.html

Wednesday, May 23, 2012

Umum : Kuliah Sambil Kerja? Universitas Terbuka Cukup "Ramah"

Banyak hal yang menjadi motivasi seseorang yang untuk melanjutkan pendidikan (formal)nya meskipun telah memiliki pekerjaan. Di antaranya adalah tuntutan yang bersifat administratif yang sampai sekarang masih sering dipergunakan sebagai syarat formal peningkatan karier seseorang. Bukan hanya di institusi pemerintahan, di swasta pun sepertinya masih ada yang memberlakukan sistem ini. Tentu saja bukan melulu motivasi itu saja yang mendasari seseorang ingin kuliah lagi, banyak yang memang memiliki keinginan untuk mengecap ilmu sebanyak-banyaknya. Meningkatkan taraf keilmuannya ataupun memperoleh ilmu/pendidikan di bidang lain yang ia minati.

Bukan hanya selesai pada niat atau keinginan saja, yang pasti untuk kuliah lagi itu membutuhkan biaya tidak sedikit, inilah yang sering menjadi kendala. Ada sih yang memang memiliki “kelebihan” atau “keberuntungan” memperoleh beasiswa, tapi lebih banyak yang tidak berkesempatan mendapatkannya. Sehingga keputusan untuk kuliah sembari bekerja ini secara umum dapat terwujud ketika ada niat, dukungan (keluarga/institusi), waktu, dan tentu saja yang itu tadi, biaya. Ketika semua itu telah memungkinkan, maka pekerja tinggal memilih di mana ia akan berkuliah.

Satu hal yang selama ini sering “tidak dianggap” oleh para pencari ilmu ini adalah bahwa selama ini ada institusi pendidikan tinggi yang patut untuk dijadikan pilihan, yaitu UNIVERSITAS TERBUKA (UT). Paradigma yang sering tertangkap selama ini adalah , UT itu hanyalah sekolah formalitas, sebagian besar mahasiswanya adalah para guru yang dituntut harus S-1. Bahkan banyak candaan yang terkesan “melecehkan” bahwa kuliah di Universitas Terbuka bisa “masuk angin”. Ter…la…lu!

Jika ada di antara Anda yang masih menanamkan anggapan demikian, Saya sarankan untuk meninjau ulang. Karena sebenarnya universitas ini memiliki banyak kelebihan dan kecocokan untuk pekerja, di antaranya adalah :
1. UT berstatus Negeri
2. Hampir seluruh daerah di wilayah RI bisa mengaksesnya.
3. Biaya kuliah bisa dikatakan terjangkau/dapat disesuaikan dengan isi kantong pekerja.
4. Ilmu yang didapat bisa “tak kalah” dengan universitas lain.
UT itu negeri? Iya, tak perlu dijelaskan.

Yang tinggal di pelosok bisa mengaksesnya? Tentu karena perwakilan/ unit yang dinamakan UPBJJ (Unit Pelayanan Belajar Jarak Jauh) hampir di tiap kota-kota (besar) ada.

Biaya kuliah bisa dikatakan “terjangkau” karena selain tidak terlalu mahal seperti Universitas “mainstream”, polanya bisa disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa. Jadi begini, di UT itu biaya yang dikeluarkan adalah biaya registrasi (pendaftaran), biaya semesteran, biaya SKS sesuai mata kuliah yang diambil di semester itu (mahasiswanya sendiri yang mengaturnya, berapa SKS/mata kuliah yang ingin dia ambil), dan pembelian buku/modul kuliah (tak wajib). Tak mahal kok, kalau tak percaya cari saja informasi yang lebih lengkap ke www.ut.ac.id. Untuk jenjang S-2 pun tidak terlalu mahal, meskipun tentu harus menabung dulu untuk biaya registrasinya.

Yang terpenting, untuk bisa “sukses” kuliah di UT adalah “semangat” belajar mahasiswanya. Karena sistem pendidikan di sana dengan kalimat yang mudah adalah “belajar secara mandiri”. Anda bisa mengatur jam belajar sendiri di rumah, membaca modul, belajar berkelompok, ataupun bertutorial pada rekan yang dianggap berilmu dan memanfaatkan tutorial yang disediakan oleh universitas ini baik offline ataupun online. Banyak cara untuk belajar kan? Bahkan dengan pola belajar mandiri ini ilmu yang anda serap kemungkinan akan lebih tertanam. Yang jelas, ketika tiba waktunya ujian (biasanya hari minggu) Anda harus bisa menyelesaikannya.

Memang, mendisiplinkan diri itu tak mudah, maka itu banyak yang “menyerah” atau “gagal” menyelesaikan kuliah di sana. So, kalau Anda merasa mampu, bersemangat mencari ilmu serta berdisiplin diri namun kemampuan kantong pas-pasan, Universitas negeri yang satu ini cukup “ramah” untuk bisa menjadi alternatif pilihan. Anda bisa lulus dari UT? Hebat, apalagi jika IP-nya bisa mencapai 3 koma, jempol!

Apa sih yang ingin didapat dari kuliah sambil bekerja? Ilmunya kan? Kuliah di Universitas hebat kalau motivasi belajarnya nggak hebat juga percuma, buang biaya. Nah, jika fakultas yang Anda jadikan tujuan bukan fakultas yang spesifik (Teknik, Seni, dan lain-lain), tak salah untuk meliriknya.
Ilmu bisa dari mana-mana. Salam pembelajar.

Sumber : Chris Suryo, http://edukasi.kompasiana.com/2012/05/23/kerja-sambil-kuliah-universitas-terbuka-cukup-"ramah"

Umum : Efektivitas Minggu Tenang

Di Perguruan Tinggi lazim ada break selama seminggu yang diperuntukkan untuk menenangkan kegiatan akademik sebelum ujian semester berlangsung. Waktu break tersebut umumnya disebut dengan Minggu Tenang. Selama Minggu Tenang mahasiswa diberi kesempatan untuk menggali kembali materi kuliah selama satu semester. Namun, faktanya tidak jarang beberapa mahasiswa justru menghabiskan waktu Minggu Tenang untuk melakukan aktivitas yang kurang produktif seperti bersantai-santai di rumah, full liburan dan atau menghentikan sama sekali budaya akademisnya (membaca, menulis dan diskusi). Hal tersebut mengakibatkan Minggu Tenang menjadi kurang efektif.

Pada hakekatnya Minggu Tenang dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa guna merefresh diri agar tenaga dan pikiran segar kembali sehingga mahasiswa menjadi lebih siap untuk menjalani ujian semester. Minggu Tenang juga dapat menjadi sebuah space untuk merefleksi pencapaian diri selama satu semester di Perguruan Tinggi. Hasil refleksi yang terlihat pada diri dapat dijadikan acuan mahasiswa untuk mengambil segala sesuatu yang baik dari semester sebelumnya dan mengambil langkah yang lebih baik untuk semester berikutnya. Untuk itu tidak menjadi soal manakala pada Minggu Tenang digunakan untuk berlibur oleh mahasiswa namun dengan tetap tidak menghentikan sama sekali budaya akademis dalam kesehariannya.

Agar Minggu Tenang dapat berlangsung efektif bagi mahasiswa ada beberapa opsi yang dapat ditempuh diantaranya. Pertama, selesaikan terlebih dahulu tugas pribadi dan tugas kuliah yang masih ada. Kedua, bagi mahasiswa yang kembali ke kampung halaman agar sekalian membawa materi kuliah yang akan di ujiankan.

Dengan begitu ketika di daerah asal dalam belajar tidak terhalang oleh ketiadaan materi kuliah yang tertinggal di indekos atau asrama. Harapannya mahasiswa lebih bijak dalam menggunakan waktu Minggu Tenang seefektif mungkin karena sejatinya Minggu Tenang bukan merupakan masa libur. Wallahu’alam.

Sumber : Sidek Ahmad, Koran Harian Jogja Edisi 23 Mei 2012

Sunday, May 6, 2012

Selayang Pandang Kabupaten Garut

        Sejarah Kabupaten Garut berawal dari pembubaran Kabupaten Limbangan pada tahun 1811 oleh Daendels dengan alasan produksi kopi dari daerah Limbangan menurun hingga titik paling rendah nol dan bupatinya menolak perintah menanam nila (indigo). Pada tanggal 16 Pebruari 1813, Letnan Gubernur di Indonesia yang pada waktu itu dijabat oleh Raffles, telah mengeluarkan Surat Keputusan tentang pembentukan kembali Kabupaten Limbangan yang beribu kota di Suci. Untuk sebuah Kota Kabupaten, keberadaan Suci dinilai tidak memenuhi persyaratan sebab daerah tersebut kawasannya cukup sempit.

      Berkaitan dengan hal tersebut, Bupati Limbangan Adipati Adiwijaya (1813-1831) membentuk panitia untuk mencari tempat yang cocok bagi Ibu Kota Kabupaten. Pada awalnya, panitia menemukan Cimurah, sekitar 3 Km sebelah Timur Suci (Saat ini kampung tersebut dikenal dengan nama Kampung Pidayeuheun). Akan tetapi di tempat tersebut air bersih sulit diperoleh sehingga tidak tepat menjadi Ibu Kota. Selanjutnya panitia mencari lokasi ke arah Barat Suci, sekitar 5 Km dan mendapatkan tempat yang cocok untuk dijadikan Ibu Kota. Selain tanahnya subur, tempat tersebut memiliki mata air yang mengalir ke Sungai Cimanuk serta pemandangannya indah dikelilingi gunung, seperti Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, Gunung Guntur, Gunung Galunggung, Gunung Talaga Bodas dan Gunung Karacak.

       Saat ditemukan mata air berupa telaga kecil yang tertutup semak belukar berduri (Marantha), seorang panitia "kakarut" atau tergores tangannya sampai berdarah. Dalam rombongan panitia, turut pula seorang Eropa yang ikut membenahi atau "ngabaladah" tempat tersebut. Begitu melihat tangan salah seorang panitia tersebut berdarah, langsung bertanya : "Mengapa berdarah?" Orang yang tergores menjawab, tangannya kakarut. Orang Eropa atau Belanda tersebut menirukan kata kakarut dengan lidah yang tidak fasih sehingga sebutannya menjadi "gagarut".

      Sejak saat itu, para pekerja dalam rombongan panitia menamai tanaman berduri dengan sebutan "Ki Garut" dan telaganya dinamai "Ci Garut". (Lokasi telaga ini sekarang ditempati oleh bangunan SLTPI, SLTPII, dan SLTP IV Garut). Dengan ditemukannya Ci Garut, daerah sekitar itu dikenal dengan nama Garut.. Cetusan nama Garut tersebut direstui oleh Bupati Kabupaten Limbangan Adipati Adiwijaya untuk dijadikan Ibu Kota Kabupaten Limbangan.

       Pada tanggal 15 September 1813 dilakukan peletakkan batu pertama pembangunan sarana dan prasarana ibukota, seperti tempat tinggal, pendopo, kantor asisten residen, mesjid, dan alun-alun. Di depan pendopo, antara alun-alun dengan pendopo terdapat "Babancong" tempat Bupati beserta pejabat pemerintahan lainnya menyampaikan pidato di depan publik. Setelah tempat-tempat tadi selesai dibangun, Ibu Kota Kabupaten Limbangan pindah dari Suci ke Garut sekitar Tahun 1821. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal No: 60 tertanggal 7 Mei 1913, nama Kabupaten Limbangan diganti menjadi Kabupaten Garut dan beribu kota Garut pada tanggal 1 Juli 1913. Pada waktu itu, Bupati yang sedang menjabat adalah RAA Wiratanudatar (1871-1915). Kota Garut pada saat itu meliputi tiga desa, yakni Desa Kota Kulon, Desa Kota Wetan, dan Desa Margawati. Kabupaten Garut meliputi Distrik-distrik Garut, Bayongbong, Cibatu, Tarogong, Leles, Balubur Limbangan, Cikajang, Bungbulang dan Pameungpeuk.
Pada tahun 1915, RAA Wiratanudatar digantikan oleh keponakannya Adipati Suria Karta Legawa (1915-1929). Pada masa pemerintahannya tepatnya tanggal 14 Agustus 1925, berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal, Kabupaten Garut disahkan menjadi daerah pemerintahan yang berdiri sendiri (otonom). Wewenang yang bersifat otonom berhak dijalankan Kabupaten Garut dalam beberapa hal, yakni berhubungan dengan masalah pemeliharaan jalan-jalan, jembatan-jembatan, kebersihan, dan poliklinik. Selama periode 1930-1942, Bupati yang menjabat di Kabupaten Garut adalah Adipati Moh. Musa Suria Kartalegawa. Ia diangkat menjadi Bupati Kabupaten Garut pada tahun 1929 menggantikan ayahnya Adipati Suria Karta Legawa (1915-1929). 

Perkembangan Fisik Kabupaten Garut
      Sampai tahun 1960-an, perkembangan fisik Kota Garut dibagi menjadi tiga periode, yakni pertama (1813-1920) berkembang secara linear. Pada masa itu di Kota Garut banyak didirikan bangunan oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk kepentingan pemerintahan, berinvestasi dalam usaha perkebunan, penggalian sumber mineral dan objek wisata. Pembangunan pemukiman penduduk, terutama disekitar alun-alun dan memanjang ke arah Timur sepanjang jalan Societeit Straat.

      Periode kedua (1920-1940), Kota Garut berkembang secara konsentris. Perubahan itu terjadi karena pada periode pertama diberikan proyek pelayanan bagi penduduk. Wajah tatakota mulai berubah dengan berdirinya beberapa fasilitas kota, seperti stasiun kereta api, kantor pos, apotek, sekolah, hotel, pertokoan (milik orang Cina, Jepang, India dan Eropa) serta pasar.
Periode ketiga (1940-1960-an), perkembangan Kota Garut cenderung mengikuti teori inti berganda. Perkembangan ini bisa dilihat pada zona-zona perdagangan, pendidikan, pemukiman dan pertumbuhan penduduk. 

Keadaan Umum Kota
     Pada awal abad ke-20, Kota Garut mengacu pada pola masyarakat yang heterogen sebagai akibat arus urbanisasi. Keanekaragaman masyarakat dan pertumbuhan Kota Garut erat kaitannya dengan usaha-usaha perkebunan dan objek wisata di daerah Garut.
Orang Belanda yang berjasa dalam pembangunan perkebunan dan pertanian di daerah Garut adalah K.F Holle. Untuk mengenang jasa-jasanya, pemerintah Kolonial Belanda mengabadikan nama Holle menjadi sebuah jalan di Kota Garut, yakni jalan Holle (Jl.Mandalagiri) dan membuat patung setengah dada Holle di Alun-alun Garut.

     Pembukaan perkebunan-perkebunan tersebut diikuti pula dengan pembangunan hotel-hotel pada Tahun 1917. Hotel-hotel tersebut merupakan tempat menginap dan hiburan bagi para pegawai perkebunan atau wisatawan yang datang dari luar negeri. Hotel-hotel di Kota Garut , yaitu Hotel Papandayan, Hotel Villa Dolce, Hotell Belvedere, dan Hotel Van Hengel.
Di luar Kota Garut terdapat Hotel Ngamplang di Cilawu, Hotel Cisurupan di Cisurupan, Hotel Melayu di Tarogong, Hotel Bagendit di Banyuresmi, Hotel Kamojang di Samarang dan Hotel Cilauteureun di Pameungpeuk. Berita tentang Indahnya Kota Garut tersebar ke seluruh dunia, yang menjadikan Kota Garut sebagai tempat pariwisata. 

Penetapan Hari Jadi Garut
     Sebagaimana sudah disepakati sejak awal, semua kalangan masyarakat Garut telah menerima bahwa hari jadi Garut bukan jatuh pada tanggal 17 Mei 1913 yaitu saat penggantian nama Kabupaten Limbangan menjadi Kabupaten Garut, tetapi pada saat kawasan kota Garut mulai dibuka dan dibangun sarana prasarana sebagai persiapan ibukota Kabupaten Limbangan. Oleh karena itu, mulai tahun 1963 Hari Jadi Garut diperingati setiap tanggal 15 September berdasarkan temuan Tim Pencari Fakta Sejarah yang mengacu tanggal 15 September 1813 tersebut pada tulisan yang tertera di jembatan Leuwidaun sebelum direnovasi. Namun keyakinan masyarakat terhadap dasar pengambilan hari jadi Garut pun berubah. Dalam PERDA Kab. DT II Garut No. 11 Tahun 1981 tentang Penetapan Hari Jadi Garut yang diundangkan dalam Lembaran Daerah pada tanggal 30 Januari 1982, dinyatakan bahwa Hari Jadi Garut dipandang lebih tepat pada Tanggal 17 Maret 1813.

     Penelusuran hari jadi Garut berpijak pada pertanyaan kapan pertama kali muncul istilah “Garut”. Seperti telah dijelaskan, ungkapan itu muncul saat “ngabaladah” dalam mencari tempat untuk ibukota Kabupaten Limbangan yang diperintahkan R.A.A Adiwijaya sebagai Bupati yang dilantik pada tanggal 16 Februari 1813. Fakta tentang Jembatan Leuwidaun yang peletakkan batu pertamanya adalah tanggal 15 September 1918 juga tetap diperhitungkan. Dengan demikian, asal mula tercetus kata “Garut” adalah diyakini berada pada sebuah hari antara 16 Februari 1813 s.d. 15 September 1918.
      Dari berbagai penelusuran diketahui bahwa Bupati Adiwijaya dalam membuat kebijakan selalu meminta fatwa dari sesepuh yang diduga berkebudayaan Islam karena Suci berada di sekitar Godog, makam tokoh penyebar agama Islam. Bersumber pada tradisi tata perhitungan waktu masyarakat, diperkirakan bahwa panitia yang “ngabaladah” ibukota diperintahkan pada bulan Mulud sebagai bulan yang dianggap baik pada waktu itu. “Ngabaladah” tidak mungkin dilakukan pada tanggal 1 Mulud karena kepercayaan orang Sunda pada waktu itu adalah bahwa hari baik jatuh pada saat bulan purnama antara 12-14 Mulud. Karena, 12 mulud dianggap sebagai hari puncak peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, maka yang paling diiyakini memungkinkan untuk “ngabaladah” adalah tanggal 14 Mulud. Menurut perhitungan waktu karya Roofer, hasil konversi tanggal 14 Mulud 1228 Hijriyah itu adalah tanggal 17 Maret 1913.

Sumber : Official Web Kabupaten Garut
(http://www.garutkab.go.id/pub/static_menu/detail/sekilas_sejarah#)

Perkembangan ITB dalam Tatanan Pendidikan

     Institut Teknologi Bandung (ITB) memiliki dinamika sejarah yang panjang sebagai institusi pendidikan tertinggi tertua di Indonesia. Perjalanan sejarahnya dimulai tatkala Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH) diresmikan pada tanggal 3 Juli 1920, yang kemudian diubah namanya menjadi Institute Of Tropical Sciences-Kogyo Daigaku dalam rentang 1942-1945. Kemudian di awal kemerdekaan, Kogyo Daigaku berubah menjadi Sekolah Tinggi Teknik (1945-1946), dan pada saat NICA ingin kembali menduduki Indonesia, STT berubah menjadi Faculteit van Technische Wetenschap, Universiteit van Indonesie, yang berlangsung hingga tahun 1959. Akhirnya, sejak tahun 1959, lahirlah Institut Teknologi Bandung, yang masih berdiri kokoh hingga kini.

Sekilas Pendidikan Zaman VOC
      Jika di negeri Belanda pada abad XVII dan XVIII pendidikan dan pengajaran dilaksanakan oleh lembaga-lembaga keagamaan, di Hindia Belanda tidak demikian. Vereenigde Oost-Indische COmpagnie (VOC) tidak menghendaki lembaga-lembaga keagamaan memiliki wewenang besar, meski demikian, penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran masih dilakukan oleh kalangan agama, namun mereka adalah sekaligus pegawai-pegawai yang bekerja untuk VOC (Moestoko, dkk: 1979:41).
   Tujuan dilaksanakannya pendidikan dan pengajaran waktu itu ialah untuk memberikan pengetahuan umum maupun hal-hal khusus tentang Indonesia, yang diperuntukkan bagi kalangan Belanda. Adapun untuk kalangan pribumi, diberikan pendidikan sekadarnya untuk tujuan tenaga-tenaga pembantu yang amat murah.
     Sekolah yang pertama kali didirikan ialah pada tahun 1617 di Batavia, dan hingga tahun 1979 jumlah murid yang ada (di luar kepulauan Maluku) berjumlah 1657 murid yang tersebar pada tujuh daerah jajahan yaitu Batavia, Pantai utara Pulau Jawa, Makasar, Timor, Pantai Barat Sumatera, Cirebon, dan Banten.
     Sekolah yang ada pada saat itu adalah pendidikan dasar seperti Batavische School (1622) dan Burgerschool (1630) yang bertujuan mendidik budi pekerti. Selain itu, sempat pula didirikan Sekolah Latin yang mengajarkan bahasa latin dengan sistem persekolahan dengan cara in-de-kost (numpang tinggal) di rumah seorang pendeta. Sekolah latin hanya bertahan hingga pada tahun 1656. Sekolah lain yang didirikan ialah Seminarium Theologium untuk mendidik calon-calon pendeta, yang hanya bertahan hanya sepuluh tahun sejak didirikan pada tahun 1745 atas prakarsa Gubernur Jenderal Van Imhoff. Ia pula yang memprakarsai berdirinya Academie der Marine (Akademi Pelayaran) yang juga pada akhirnya ditutup pada tahun 1755. Ada pula Sekolah Cina yang diperuntukkan bagi kalangan keturunan Cina yang bertahan selama 7 tahun sejak 1737 disebabkan terjadinya de Chineezenmoord (pembantaian Cina) di Tahun 1740.
    Dapatlah dilihat bahwa pendidikan di zaman VOC berkuasa masih amat sedikit, cenderung hanya bersifat pendidikan dasar, belum diatur dengan manajemen yang baik, dan lebih diperuntukkan bagi orang-orang Belanda. Maka jangankan berbicara mengenai keberadaan pendidikan tinggi, corak pendidikan yang lebih mendasar pun dapat dikatakan belum tersentuh.


Perkembangan Kondisi Politik
      Pada tahun 1799, VOC mengalami kebangkrutan. Hindia-Belanda kemudian diambil alih oleh pemerintah Belanda. Pada saat yang sama, di Eropa sedang gencar-gencarnya semangat Aufklarung mempengaruhi masyarakat, yang sebetulnya sudah dimulai sejak abad XVII. Semangat Aufklarung sangat percaya kepada kekuatan nalar dan akal sehat, dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Penjunjungan itu terkait dengan hak-hak asasi manusia yang tidak boleh dimarginalisasi.
  Efek semangat Aufklarung secara fundamental mengubah pola pandang tentang penyelenggaraan pendidikan yang sebelumnya diselenggarakan oleh lembaga-lembaga keagamaan, yang kemudian berubah menjadi negara. Dalam hal ini mulai terjadi pemisahan sigfinikan antara peran agama dan negara. Negara berkewajiban untuk bertanggung jawab atas pendidikan rakyat, yang pada gilirannya dimanifestasikan dalam bentuk pendirian sekolah-sekolah negeri.
    Jon Willem Daendels, adalah tokoh Gubernur Jenderal Hindia-Belanda (1807-1811) yang menganut paham Aufklarung. Namun demikian, karena ia ditugaskan untuk mempertahankan daerah jajahan dari kemungkinan serangan Inggris, maka ia tidak terlalu fokus untuk mengurusi pendidikan. Memang benar, bahwa ia sempat pula mendirikan sekolah di Meester Cornelis (Jatinegara), Batavia, dan di Semarang. tetapi sekolah tersebut adalah sekolah artileri dan sekolah pelayaran. Sekalipun demikian, Daendels memerintahkan kepada Bupati di Timur Laut Jawa untuk mengajarkan pendidikan dasar untuk penduduk pribumi.
    Setelah Belanda mengambil alih kekuasaan kembali dari tangan Inggris di tahun 1816, barulah pendidikan mulai mendapat perhatian. Akan tetapi, pendidikan dasar yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk pribumi baru mulai didirikan dan berkembang pada tahun 1848 atas keputusan Raja Belanda setelah didiskusikan berlarut-larut. Secara umum, sekolah dasar tersebut lebih diperuntukkan untuk mendidik calon-calon pegawai negeri untuk dipekerjakan membantu pemerintah.
    Aufklarung, semakin berkembang hingga memunculkan suatu paham liberalisme yang salah satunya memiliki pandangan bahwa hak-hak azasi pada setiap manusia harus diterapkan, yang menyangkut kebebasan beragama, berserikat, berkumpul, mengeluarkan pendapat, hingga menyangkut hak memperoleh pendidikan. Liberalisme di negeri Belanda semakin memasuki ranah politik praktis dengan terbentuknya sebuah partai liberal. Ketika partai ini berhasil memegang tampuk kekuasaan, beberapa ide pokok liberalisme berhasil diwujudkan. Kepemimpinan perdana menteri Thorbecke yang terpilih hingga tiga kali (1849-1853, 1862-1866, 1871-1872) sedikit banyak telah mempengaruhi kebijakan yang diterapkan di wilayah jajahan Hindia-Belanda.
     Pada tahun 1855, terdapat instruksi kepada Gubernur Jenderal yang diminta untuk mengambil tindakan agar sedapat mungkin dapat memperbaiki dan memperluas pendidikan bagi kalangan Eropa dan pribumi, juga untuk meningkatkan hal ihwal kesenian dan ilmu pengetahuan.
    Terhitung sejak pertengahan abad XIX itulah, pendidikan di Hindia-Belanda semakin marak. Kendati begitu, pendidikan yang dilaksanakan sampai dengan jelang memasuki abad XX masih distratifikasi berdasarkan kelas pembagian penduduk. Menurut hukum pada tahun 1848, pembagian golongan yang berlaku di Hindia Belanda meliputi golongan Eropa, golongan yang dipersamakan dengan Eropa, golongan Bumiputera, dan golongan yang dipersamakan dengan bumiputera. Adapun untuk kalangan bumiputera sendiri, masih dibagi lagi menjadi golongan bangsawan (priyayi), golongan pemimpin agama (ulama), dan golongan rakyat biasa.
     Secara ekonomi, pada dasawarsa awal abad XIX, Belanda membutuhkan banyak dana untuk memulihkan kondisi ekonomi negara tersebut akibat peperangan di Eropa yang juga melibatkan Belanda. Untuk memenuhi tujuan tersebut, Gubernut Jenderal Van Den Bosch (1829-1834) menciptakan cultuurstelsel, suatu sistem kultivasi yang mewajibkan rakyat menanam seperlima dari lahannya dengan tumbuhan yang dikehendaki pihak Belanda agar laku dijual di pasaran Eropa. Sementara, pembangunan ekonomi di Hindia-Belana tidak akan mampu berkembang jika tidak ditopang oleh tenaga kerja yang direkrut dari kalangan bumiputera sendiri, yang pada akhirnya diperuntukkan untuk menjadi tenaga administrasi dan pekerja bawahan.
     Hal ini merupakan sebuah kejanggalan dari semangat liberalisme yang didengungkan di negeri Belanda. Terdapat semacam kontradiksi antara paham yang dianut dan diterapkan di Belanda dengan penerapan di Hindia Belanda. Salah satu contoh efek yang ekstrim ialah peristiwa meninggalnya puluhan ribu warga di sekitar pesisir utara Jawa Tengah akibat kelaparan ketika masa cuulturstelsel diberlakukan. Padahal, ketika itu De Groote Postweg yang dibangun pada masa Daendels tidak jauh melewati daerah tersebut.
     Sistem cuultuurstelsel dengan cepat membawa keuntungan bagi negeri Belanda, dan di tahun 1840, revolusi industri dimulai disana dibawah aturan Raja Willem II. Dua tahun kemudian, berdiri Delft Academy with the sole purpose of educating those who would serve in the colonies to which for financial reasons almost nobody from the “Dutch East Indies” enrolled.
Sejak itulah, Belanda mengalami suatu perkembangan yang luar biasa. Paham kapitalisme laissez-faire yang menghendaki kebebasan usaha di sektor swasta tanpa campur tangan yang signifikan dari pihak pemerintah, pada gilirannya adalah kalangan yang sangat mendukung liberalisme, khususnya dalam ranah ekonomi. Dan di akhir abad XIX jelang diutarakannya politik etis, sistem ekonomi liberal sudah mulai tampak jelas.


     Pada tahun 1917 timbul di kalangan beberapa pengusaha swasta Belanda yang beraliran liberal, terutama dari kalangan perkebunan, cita-cita untuk memberikan “hadiah” dalam bentuk suatu sekolah tinggi rekayasa kepada pribumi Hindia Belanda. Maka pada tanggal 1 Mei 1919, “hadiah” tersebut diserahkan kepada Gubernur Jenderal Von Limburg Stirum oleh suatu komisi yang diketuai oleh Dr. J. W Ijzerman dalam suatu rapat yang diadakan di Istana Weltevreden. Kemudian pada tanggal 3 Juli 1920, di tempat yang sekarang beralamat di Jalan Ganesha 10 Bandung, tepatnya di Aula Timur yang pada saat itu belum sepenuhnya siap, dibukalah Technische Hoogeschool secara resmi oleh Gubernur Jenderal Von Limburg Stirum. Kemudian subkomisi pendidikan yang terdiri dari Prof. Dr. S. Hoogerwerff sebagai ketua dan Ir. R. A. van Sandick dan Prof. Ir. C.W. Weijs.
    Pada masa itu sebenarnya berangkat dari keinginan pemerintah Hindia Belanda dalam mencetak tenaga ahli murah (relatif dibandingkan dengan jika harus didatangkan dari Negeri Belanda) untuk membangun lingkungan yang nyaman (fasilitas tersedia) dan sehat (mencegah penyakit menular) bagi masyarakat Belanda (dan Eropa) untuk tinggal di koloninya ini. Dari niat pendiriannya, sebenarnya TH didirikan atas pertimbangan pragmatis, yaitu karena kebutuhan eksternal. Hal ini berbeda dengan pendirian beberapa lembaga pendidikan seperti “Perguruan Taman Siswa” oleh Ki Hajar Dewantara atau Pesantren “Gontor” oleh Trio Kyai Sahal, Zainuddin Fanani, dan Imam Zarkasyi, yang didasarkan pada idealisme atau sebuah “cita-cita luhur”, yaitu mendidik dan membina manusia.

Technische Hogeschool te Bandung, Tahun 1920-1940
    TH Lahir pada tahun 1920 dalam lingkungan yang sangat kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan, kesempatan ini ditunjang oleh kebijakan (politik) Pemerintah Hindia Belanda untuk menyelesaikan masalah Hindia-Belanda dengan kemampuan dalam negeri sendiri.

Technische Hogeschool Bandung, tahun 1940-1942
   Pada umumnya sebagai institusi pendidikan, TH melanjutkan tradisinya yang telah mapan selama dua puluh tahun sebelumnya, yaitu kegiatan pendidikan rekayasa dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Institute of Tropical Science-Kogyo Daigaku, Tahun 1942-1945
   Tanggal 9 Maret 1942 Angkatan Perang Kerajaan Belanda (Koninklijke Indische Leger) menyerah kepada balatentara Dai Nippon di Kalijati, Jawa Barat. Laboratorium TH dibuka dengan nama Institute Tropical Science. Pada tanggal 1 April 1944, Pemerintah Militer Jepang membuka di tempat yang sama institusi pendidikan yang disebutnya sebagai Tokyo Daigaku yang terdiri dari 2 tingkatan, yaitu Daigakubu dan Senmonbu (Sekolah Tinggi Teknik dan Sekolah Menengah Teknik).

Sekolah Tinggi Teknik, Tahun 1945-1946
      Angkatan perang Dai Nippon menyerah kepada Tentara Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945. Bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Kogyo Daigaku berubah menjadi sekolah tinggi teknik, disingkat STT.
Faculteit van Technische Wetenschap, Universiteit van Indonesia, Tahun 1946-1959
Sementara Pemerintah Republik Indonesia ada dalam pengungsian di Yogyakarta, Pemerintah Pendudkan Belanda, NICA (The Netherlands Indies Civil Administration) di Jakarta melanjutkan rencana mereka yang tertunda karena PD II untuk mendirikan suatu Universiteit di Indonesia. Maka NICA mendirikan Universiteit van Indonesie, di dalam sistem Universiteit tersebut dibuka Faculteit van Technische Wetenschap di Kompleks TH di Bandung, yaitu sebuah fakultas pendidikan rekayasa baru yang diketuai Prof. Dr. K. Posthumu.



Sumber : Official Web KM-ITB (http://km.itb.ac.id/site/?p=113)

    • Popular
    • Categories
    • Archives